Judul : Devdas - Kisah Cinta Dua Dunia
Penulis : Saratchandra Chattopadhyay
Penerbit : Kayla Pustaka
Halaman : 257 hlm.
Harga : Rp 35.000,-
Devdas dan Paro adalah dua orang sahabat yang saling menyayangi sejak kecil. Mereka harus berpisah ketika Devdas disekolahkan ke Kalkutta. Ketika mereka beranjak dewasa, Paro meminta Devdas untuk melamar dirinya. Tetapi orangtua Devdas menolak rencana itu karena mereka memandang rendah derajat sosial keluarga Paro.
Dalam keadaan sedih dan limbung, Paro hanya bisa menurut pada kemauan orangtuanya, yang menjodohkannya dengan seorang duda kaya. Sebaliknya, Devdas membenamkan dirinya dalam kehidupan bar, ditemani minuman keras dan Chandramukhi, seorang pelacur dan penari jelita yang jatuh hati kepadanya.
Terbit pertama kali pada tahun 1917 di India, roman Devdas adalah salah satu cerita cinta paling tragis pada zaman kita.
Ulasan tentang Film DEVDAS dapat dilihat disini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Devdas
1 star-crossed lover made in india Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 17-07-2007 07:11 Di antara jajaran kisah cinta yang kita kenal, Devdas memiliki arti tersendiri karena mengakar kuat pada tradisi sosialnya. Ada elemen unik India yang memainkan peran penting: pembedaan kasta. Persatuan antara Devdas dan Paro tidak dimungkinkan karena perbedaan kasta di antara mereka. Ditambah lagi kebertenggaan mereka berdua menjadikan pernikahan memalukan. Hal semacam ini tidak ada dalam kamus masyarakat Indonesia, bukan? Dan ketika pada akhirnya Paro menikahi seorang duda tua tuan tanah, Paro menunjukkan sikap hormat luar biasa dan mulai mencintai keluarga suaminya yang sudah bau tanah itu. Maka Devdas pun semakin hancur hatinya. Seperti halnya kawin paksa dalam Siti Nurbaya yang memicu tragedi cinta, atau permusuhan antar keluarga bangsawan dalam Romeo dan Juliet, atau perbedaan tingkat ekonomi dan profesi dalam Cerita Cinta, perbedaan kasta benar-benar diberdayakan untuk menciptakan tragedi dalam Devdas. Dengan muatan lokal seperti ini, kisah ini menjadi penting artinya dalam jajaran kisah-kisah cinta dunia.
2 Devdas: Romeo dan Juliet Versi Timur! Ditulis oleh Wawan EY , pd 23-07-2007 12:12 Tanpa berpanjang-panjang: setiap bangsa memiliki kisah cinta yang dipuja-puja. Di jagat Inggris ada Romeo dan Juliet (1594-5) yang begitu menyayat hati. Di Cina ada Sampek-Engtay. Dari ranah Minang ada Siti Nurbaya (1922). Dari Timur Tengah ada Layla dan Majnun. Berseting Amerika modern, ada Cerita Cinta (1970) yang diangkat dari film dengan judul yang sama. Kesemuanya memang karya sastra. Tapi, tidak jarang pula dari karya-karya sastra itu yang diakuisisi oleh tradisi, menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Paling dekat, ada kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang begitu mendarah-daging hingga menjadi bagian dari tradisi Minang. Maka, jangan anggap berlebihan jika kemudian di Padang ada fly-over bernama Jembatan Siti Nurbaya yang peresmiannya menghadirkan HIM Damsyik, sang Datuk Maringgih versi sinetron. Ada satu sebab yang ikut menumbuhkan rasa memiliki di kalangan masyarakatnya: menancap kuatnya akar tradisi ke dalam cerita-cerita itu. Kisah-kisah cinta itu boleh berasal dan dimuati budaya yang berbeda-beda, namun ada satu hal yang seragam: semuanya berdarah-darah. Yang ada adalah cinta yang kandas, tapi tidak pupus. Kasih tak sampai yang terus diperjuangkan dan akibatnya hanya tambah membuat sengsara pihak-pihak yang terbelit di dalamnya. Inilah kisah cinta di mana seorang pencinta sampai pada keputusan untuk meletakkan kematian di atas segala-galanya. Dan air mata kita pun menitik, atau bahkan mengucur, dibuatnya. Demikianlah kisah-kisah yang hampir semua kita hapal setiap kelok alurnya. Tapi, adakah kita pernah mendengar Devdas dari India? Terbit pertama kali pada tahun 1917, Devdas lahir dari tangan Saratchandra Chattopadhyay. Kisah itu menghadirkan tema kasih tak sampai, dan terbukti berhasil. Mengisahkan lika-liku hubungan antara Devdas dan Paro yang ditaburi luka hati di berbagai sudutnya, cerita ini telah menguras berember-ember air mata pembacanya dari zaman ke zaman. Itu dibuktikan dengan fakta bahwa Devdas telah delapan kali difilmkan. India memang gudangnya film penguras air mata. Tak kunjung punah eksplorasi para penulis skenario India menghasilkan kisah-kisah yang membikin Bollywood dianggap sebagai ladang film paling subur di jagat raya. Tapi, jika sebuah kisah sampai difilmkan hingga delapan kali—dan salah satunya dibintangi Sahrukh Khan dan Aishwarya Rai—tidaklah salah jika kita membayangkan bahwa Devdas bukanlah kisah yang begitu-begitu saja. Berlatar kehidupan tradisional India, Devdas diawali dengan kisah masa kecil Devdas dan Paro yang diwarnai dengan kenakalan Devdas, anak tuan tanah berkasta brahmana, dan keluguan Paro, seorang gadis cantik anak tetangganya yang berasal dari golongan pedagang. Devdas yang kelewat nakal dikeluarkan dari sekolah. Dan Paro yang sudah menumbuhkan bibit cinta kepadanya pun emoh jauh darinya, meskipun awalnya Devdas tak segan-segan memukul Paro. Saking tidak inginnya jauh-jauh dari Devdas, Paro membuat akal bulus sedemikian rupa hingga orangtuanya merestui dia keluar sekolah, sehingga ia bisa terus bermain dengan Devdas. Maka, selama setahun, Devdas dan Paro selalu berjalan runtang-runtung, memonumenkan kedekatan. Hingga kemudian, Devdas dikirim oleh bapaknya ke Kalkuta untuk bersekolah. Pun demikian, Paro yang lebih dulu memiliki hati untuk Devdas tak pernah sedetik pun melupakan buah hati masa kecilnya itu. Maka, mulailah terpasang mata rantai pertama dalam rantai panjang tangis nelangsa. Sejak ini kepiluan-kepiluan mulai datang silih-berganti layaknya sebuah kisah cinta yang tak ingin sekejap pun membuat pembacanya berpaling. Di satu titik Paro merindu-dendam, namun Devdas bersikap bagai tak tahu-menahu. Di satu titik ada saat-saat ketika Devdas dan Paro membulatkan tekad untuk memperjuangkan cinta, namun kemudian tekad itu ambyar. Di sudut lain ada perjodohan Paro yang meremukkan harapannya, namun Devdas memandangnya dengan sikap pasrah-serba-tak-tahu-harus-berkata-apa a la Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta. Di antara jajaran kisah cinta yang kita kenal, Devdas memiliki arti tersendiri karena mengakar kuat pada tradisi sosialnya. Ada elemen unik India yang memainkan peran penting: pembedaan kasta. Persatuan antara Devdas dan Paro tidak dimungkinkan karena perbedaan kasta di antara mereka. Ditambah lagi kebertetanggaan mereka berdua menjadikan pernikahan memalukan. Hal semacam ini tidak ada dalam kamus masyarakat Indonesia, bukan? Dan ketika akhirnya Paro menikahi seorang duda tua tuan tanah, Paro menunjukkan sikap hormat luar biasa dan mulai mencintai keluarga suaminya yang sudah bau-tanah itu. Maka Devdas pun semakin hancur hatinya. Seperti halnya kawin paksa dalam Siti Nurbaya yang memicu tragedi cinta, atau permusuhan antar keluarga bangsawan dalam Romeo dan Juliet, atau perbedaan tingkat ekonomi dan profesi dalam Cerita Cinta, perbedaan kasta benar-benar diberdayakan untuk menciptakan tragedi dalam Devdas. Dengan muatan lokal seperti ini, kisah ini menjadi penting artinya dalam jajaran kisah-kisah cinta dunia. Kisah-kisah cinta yang berdampak besar kepada banyak orang seperti itu mau tak mau mengingatkan kita pada salah satu kritik paling sepuh dalam jagat sastra, yakni kritik tentang tragedi yang dilontarkan oleh Aristoteles. Dia mengemukakan, tragedi, yang mengisahkan kejatuhan seorang berkedudukan tinggi, bisa membuat seorang penikmat mengidentifikasi diri dengan si tokoh utama, sehingga ketika si tokoh merasakan sakit tak terperi, atau bahkan kematian, sang penikmat akan juga merasakan ledakan perasaan haru, katarsis, yang membersihkan jiwa sang penikmat. Tanpa bermaksud menyamakan Devdas dengan drama Raja Oedipus karya Sophocles, yang dipandang Aristoteles sebagai contoh ideal tragedi yang berhasil, saya rasa tidak ada salahnya menggunakan cuilan konsep tragedi itu untuk melihat Devdas. Apakah Devdas berhasil sebagai sebuah kisah tragis? Hal-hal seperti itu bisa diserahkan kepada pembaca. Maka, silakan Anda coba menguji seberapa besar daya katarsis yang dimiliki Devdas yang hadir dalam terjemahan Indonesia yang berani memasukkan kata-kata berbahasa non-Indonesia baku, yang malah membuat kita lebih merasakan gairah cerita itu sendiri. Di satu sisi, pembaca Indonesia akan merasa ada jarak yang terkurangi antara dirinya dan novel itu sendiri. Saat membaca novel terjemahan, seringkali kita mendapatkan karya-karya yang terasa dingin karena penerjemah menerjemahkannya dengan terlalu halus. Sehingga, kita pun seakan-akan bisa merasakan bahwa suatu karya adalah karya terjemahan atau tidak. Dampaknya, kita akan merasakan adanya jarak dengan novel itu. Bukan jarak estetis, seperti yang banyak dibilang orang. Kita seakan harus berhadapan dulu dengan bahasa sebelum pada akhirnya menyelami cerita. Dalam Devdas, untungnya, penerjemah dan penyunting telah banyak berjasa mengurangi penghalang bahasa tersebut dengan mengindonesiakan secara agak tidak biasa. Banyak kata berbahasa Jawa yang dipakai yang malah membuat pembaca—setidaknya saya sendiri—merasa tidak ada lagi halangan kebahasaan. Coba saja lihat kata “goal-gail”, “senewen”, “gendeng”, “gemblung”, “menguntal”, dan sebagainya. Kita tentu akan melihat bahasa dalam novel itu sebagai bahasa yang natural, bukan bahasa Indonesia yang terlalu baik dan benar, yang ujung-ujungnya: menjemukan. Untuk urusan terjemahan, pantaslah kita menghargai Devdas versi Indonesia yang diterbitkan Kayla Pustaka ini. Masukilah kisah yang diceritakan dengan sangat ringan dari sudut pandang seorang juru cerita ini. Dan rasakan, apakah Anda bisa merasakan takut dan iba dan temukan juga bagian-bagian—kebanyakan dialog—yang membikin tengkuk kita meremang dan ngerti dengan bagaimana seseorang menyatakan cintanya. Dengan kentalnya nuansa tradisi melingkupi dan membentuk arah ceritanya, mau tak mau kita akan dipaksa mempertanyakan, setelah Siti Nurbaya, kisah cinta mana lagi karya penulis negeri yang bisa membangkitkan takut dan iba sambil sekaligus juga menghadirkan logika cerita yang matang dan kuat dengan muatan lokal. Juli, 2007 Wawan Eko Yulianto, Penerjemah dan Kritikus Sastra
3 Resensi Novel: Devdas, Kisah Cinta Dua D Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 06-09-2007 00:17 Penulis: Saratchandra Chattopadhyay Penerjemah: Meithya Rose Prasetya Penerbit: Kayla Pustaka Tebal: 257 halaman Cetakan: I, Juni 2007 Beli di: Togamas, Bandung Skor: 7,5 Cinta, itulah menu utama novel ini. Budaya India, yang biasanya sering saya temukan di buku-buku bersetting sama, bisa dikatakan minim dibahas. Setidaknya, saya mendapat pengetahuan mengenai pengertian 'anchal'. Devdas adalah nama seorang pria, putra zamindar (tuan tanah) Mukherjee. Orangtuanya tidak menyetujui rencananya menikah dengan Parvati karena kasta mereka berbeda dan tidaklah pantas mengambil mantu dari tetangga yang tepat tinggal di sebelah rumah. Merasa kesal oleh penolakan Mukherjee-babu, nenek dan ibu Parvati yang dikisahkan materialistis menikahkan gadis itu dengan seorang duda kaya raya. Penggambaran fisik sang duda tersebut merupakan salah satu pemicu 'konflik' yang menarik, sedetil deskripsi karakter dalam novel-novel India lainnya seperti 'Sister of My Heart' dan 'For Matrimonial Purpose'. Ternyata ia sudah berumur setengah abad, sehingga pernikahan Parvati diwarnai gunjingan orang sekitar. Bagi saya, keindahan cinta yang sesungguhnya terletak dalam rumahtangga Parvati. Suaminya memperlakukan ia dengan baik, begitu pula anak-anaknya. Meski berusia lebih tua, ketiga putra-putri Bhuvan-babu tetap memanggil Parvati 'Ibu' dan menyebut diri mereka 'putramu' atau 'putrimu'. Sungguh mengagumkan, walau sempat ditingkahi penolakan putri tirinya (yang wajar, mengingat Parvati masih sangat muda dan cantik) serta kecurigaan menantu perempuannya terhadap pengelolaan keuangan Parvati. Devdas justru 'menodai' kisah ini dengan karakternya yang, menurut saya, melempem. Ia tidak tegas, menyesali keputusannya seumur hidup hingga akhirnya mati konyol. Pun demikian dengan Chandramukhi, yang mencintai Devdas secara ganjil justru karena pemuda itu mencercanya namun sempat menyampaikan akan meminta uang pada putra zamindar tersebut jika mengalami masalah ekonomi. Membingungkan sekaligus menyebalkan. Penerjemahan Meithya menjadikan novel ini mengalir ringan, disertai sejumlah kalimat yang melodius di awal beberapa bab. Misalnya 'Hawa panas menjilat-jilat bak liukan lidah niskala yang bergelombang' (halaman 1). Seperti film India, Devdas menuturkan kisah sedari masa kanak-kanak. Plotnya lurus belaka, sehingga terasa lambat dan menjemukan. Tetapi pemilihan nama Devdas sebagai judul memang patut sebab ia mendominasi keseluruhan cerita. http://sinarbulan.multiply.com/journal/item/154/Resensi_Novel_Devdas_Kisah_Cinta_Dua_Dunia
4 Situ Nurbaya Ditulis oleh marah rusli , pd 15-02-2008 07:58 resensi novel siti nurbaya oleh marah rusli
5 Kasih tak sampai Ditulis oleh Rizky Iren , pd 16-07-2008 04:54 Kasih tak sampai
6 Hebatnya pelacur Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 23-07-2008 09:04 Yang saya suka dari kisah-kisah klasik India adalah menampilkan sosok pelacur yang cerdas. Dalam Devdas kita akan bertemu dengan pelacur berkelas bernama Chandramukhi. Tokoh ini meskipun muncul tak sebarap banyak, tapi karakternya bisa seklas tokoh Umrao Jaan, novel klasik India lainnya yang bercerita tentang pelacur berkelas. Berbeda sekali dengan novel-novel lokal yang kebanyakan melukiskan pelacur dengan sangat tidak manusiawi.
7 SITI NURBAYA Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 12-08-2008 14:46 KASIH TAK SAMPAI
8 situ nurbaya Ditulis oleh xxx , pd 27-08-2008 07:40 marah rusli
Silakan untuk mengisi resensi yang tidak keluar dari topik artikel. Semua resensi yang tidak berhubungan akan segera
dihapus. Termasuk semua link yang digunakan jika ternyata berhubungan dengan aktivitas spamming.