Forgot Password? | Register
    Navigasi Beranda

Beriman Tanpa Rasa Takut PDF Cetak E-mail

Beriman Tanpa Rasa Takut Dalam buku kontroversial ini, Irshad Manji memaparkan kelemahan Islam yang paling mendasar: terorisme atas nama agama, kebencian berlebihan terhadap umat lain, dan pengkultusan Al-Quran. Namun, buku ini menggali lebih dalam lagi, menawarkan visi reformasi Islam yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Manji ingin menghidupkan kembali "tradisi ijtihad", yang hilang selama ratusan tahun dari peradaban Islam.

Inilah buku yang menginspirasi jutaan umat Islam di dunia untuk bangkit dan introspeksi.

Judul: Beriman Tanpa Rasa Takut (Tantangan Umat Islam Saat Ini)
Penulis: Irshad Manji (Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam)
Penerbit: Nun Publisher (www.nunpublisher.com) dan Koalisi Perempuan Indonesia

Harga: Rp 55.000,- (345 hlm.)

“Buku ini telah memicu banyak perdebatan.”
—The Jakarta Post

“Tidak sedikit umat Islam yang dididik untuk membenci Kristen dan Yahudi. Buku ini memaparkan sejarah kebencian tersebut.”
—Prof. Dr. Musdah Mulia, Litbang Depag RI

Beriman Tanpa Rasa Takut (versi Inggrisnya, The Trouble with Islam Today) adalah sebuah buku tentang Islam yang inspiratif sekaligus kontroversial saat ini. Sejak terbit, Irshad Manji, penulisnya, menerima banyak ancaman pembunuhan dari para penentangnya, kelompok fundamentalis. Sejumlah negara Arab melarang buku ini masuk ke wilayahnya. Namun, jutaan umat Islam terinspirasi oleh perjuangan Irshad Manji setelah membaca buku ini, dan segera bangkit untuk berjuang melawan penindasan atas nama agama di komunitas-komunitas mereka sendiri.

Terbit pertama kali pada tahun 2003, buku ini telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa, mencakup Arab, Persia, Prancis, Urdu, Malaysia, dan Indonesia; menjadi buku bestseller dan bacaan wajib bagi kaum muslim yang berpikiran kritis, para aktivis hak asasi manusia, yang mendambakan reformasi di tubuh umat Islam. Di negara-negara di mana buku ini disensor, Irshad masih mampu menyapa para pembacanya dengan cara mem-posting terjemahan buku ini di website-nya. Terjemahan bahasa Arab sendiri telah dibaca oleh jutaan orang Arab dan menjadi kasak-kusuk hebat di kalangan pemuda Timur Tengah, terutama para perempuannya, yang ingin bebas dari penjara atas nama agama di negeri mereka.

Manji berseru kepada dunia Islam untuk menghidupkan kembali Ijtihad, tradisi berpikir independen yang hilang selama ratusan tahun dari peradaban. Tak peduli ancaman pembunuhan yang ia terima, ia berkeliling dunia, menggugah orang Islam untuk terus bertanya.


PERCIKAN PEMIKIRAN IRSHAD MANJI

Islam harus ditafsirkan terus-menerus sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang dalam masyarakat.

Saat ini Islam mengalami krisis yang akan mengancam dan menyeret seluruh dunia ke dalamnya. Memang semua agama memiliki kelompok fundamentalis sendiri-sendiri yang menerapkan tafsiran harfiah, namun di agama Islam kelompok fundamentalis merupakan kelompok mainstream. Obsesi kelompok fundamentalis untuk menelan ajaran Islam secara harfiah merupakan penyebab semua masalah yang melanda Islam saat ini. Pola pemikiran seperti itulah yang menyebabkan muslim menganggap dirinya sebagai kelompok superior dan mendiskriminasi perempuan serta orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Pola pemikiran seperti itu pula yang menjadi sumber kekerasan, serangan bunuh diri, dan terorisme.

Tafsiran fundamentalis yang anti-demokrasi dan anti-perempuan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Masih ada alternatif. Dan satu-satunya alternatif untuk itu adalah dengan menghidupkan kembali Ijtihad, tradisi berpikir independen dalam Islam. Tradisi itu mengajak setiap muslim untuk tidak secara mentah-mentah atau harfiah menerima ajaran Islam.

Ketidakmampuan muslim untuk turut ambil bagian dalam dunia modern saat ini bukan karena faktor luar seperti kolonialisme, melainkan karena adanya penindasan terhadap pandangan bebas dan kritis. Manji menantang kaum muslim untuk kembali menentukan nasibnya sendiri dengan mengembalikan pandangan bebas dan kritis guna ‘memperbaharui’ Islam untuk abad ke-21.

Manji mendorong kaum intelektual Barat untuk mengkritik Islam. Menurutnya kritik sangat dibutuhkan untuk membawa pembaharuan yang dibutuhkan. Di Barat, filsafat multikulturalisme sudah berubah menjadi pandangan ortodoks, yang membuat orang Barat cenderung bersikap cuek dengan permasalahan di tempat lain. Orang-orang Barat takut dicap bersikap rasialis jika mengkritik Islam. Namun, menurut Manji, mengkritik Islam untuk membela hak asasi manusia bukanlah tindakan rasialis. Kebudayaan layak dihormati selama budaya itu juga menghormati.


INSPIRASI DAN KONTROVERSI PEMIKIRAN DI BUKU INI

Sebagai monoteis pertama di muka bumi, kaum Yahudi meletakkan dasar-dasar bagi kaum Kristen dan kaum muslim. Jadi, bukanlah kaum muslim Arab yang menemukan Tuhan yang satu: umat Islam menamai-ulang Dia sebagai “Allah”. Kata “Allah” adalah kata Arab untuk “Tuhan”—Tuhan kaum Yahudi dan Kristen. Namun umat Islam saat ini kurang mengapresiasi fakta sejarah tersebut. (Hlm. 62).

Jika saja lebih banyak dari kita yang tahu bahwa Islam adalah produk puluhan sejarah yang saling-berkaitan, bukan sebagai sebuah jalan hidup utuh yang orisinal—jika saja kita memahami bahwa kita adalah makhluk hasil persilangan spiritual—akankah kita lebih mau menerima “yang lain”? Kenapa kita begitu enggan untuk mengakui pengaruh-pengaruh luar, kecuali ketika kita menyalahkan Barat atas aneka luka kolonial yang kita derita. Yang, pada gilirannya, memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah Islam lebih picik daripada agama-agama dunia lainnya? (Hlm. 143).

Pilih satu negara muslim, negara muslim mana saja, dan penghinaan paling brutal akan segera menyentak kesadaranmu. Di Pakistan, rata-rata dua perempuan mati setiap hari akibat “pembunuhan demi kehormatan”, sering kali atas nama Allah yang diucapkan oleh mulut para pembunuh. Di Malaysia, seorang perempuan muslim tidak bisa melakukan perjalanan tanpa izin dari seorang lelaki. Di Mali dan Mauritania, anak-anak lelaki dirayu masuk perbudakan oleh para pemaksa muslim. Di Sudan, perbudakan terjadi di tangan para milisi muslim. Di Yaman dan Yordania, pekerja kemanusiaan Kristen ditembak begitu saja. Di Bangladesh, seniman yang mengadvokasi hak-hak religius kelompok minoritas dipenjarakan atau diusir ke luar negeri. Semua itu terdokumentasi dengan baik. (Hlm. 72).

Sebagian besar kaum muslim memperlakukan Al-Quran sebagai dokumen yang harus ditiru (diimitasi) ketimbang harus diinterpretasikan. Dan hal itu membunuh kemampuan kita untuk berpikir bagi diri kita sendiri. (Hlm. 75).

Al-Quran tidak secara transparan bersifat egaliter terhadap perempuan. Al-Quran tidak secara transparan bersifat apa pun selain menimbulkan banyak teka-teki. ....kaum muslimlah yang memproduksi banyak keputusan dengan mengatasnamakan Allah. Keputusan-keputusan yang kita buat berdasarkan Al-Quran tidak didiktekan oleh Tuhan: Kita membuatnya melalui kehendak bebas kita sebagai manusia. (Hlm. 82).

Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka “takutkan atau sesalkan” selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya “keyakinan yang benar”. (Hlm. 85-86).

Al-Quran juga tidak mendorong kaum muslim untuk memposisikan kaum Yahudi dan Kristen sebagai teman. Bahkan kita tidak diperkenankan untuk menjadi “salah satu dari mereka”. Al-Quran mengatakan “mereka” sebagai “orang yang tidak adil” yang “tidak diberi petunjuk oleh Tuhan”. Ada pembahasan mengenai penaklukan, pembantaian, dan pemberian pajak khusus kepada kaum non-muslim sebagai upeti kepada para penakluk muslim mereka. Itu semua sungguh merupakan tema yang membuat darah mendidih. Hal-hal semacam itulah yang memberikan pembenaran kepada beberapa kaum muslim yang melecehkan dialog antar-iman untuk merangkul pemeluk agama lain. Bagi mereka yang berpaham demikian, non-muslim boleh eksis, tapi tidak boleh eksis pada tingkatan yang sama seperti kaum muslim. Bahkan, sama sekali tidak mungkin mencapai tingkatan kaum muslim, karena Islam bukanlah salah satu keyakinan dari sekian banyak keyakinan lain. Islam jauh lebih superior di atas yang lain. Karena Islam membawa wahyu yang sempurna dan nabi yang terakhir. Bukankah membaca Al-Quran dengan cara seperti ini adalah suatu pilihan juga? Tapi, kita tidak sadar jika kita sedang memilih cara yang ini. (Hlm. 88).

Ketika pintu ijtihad tertutup, hak berpikir independen hanya menjadi milik eksklusif kelompok mufti, ulama ahli hukum, di setiap kota atau negara. “Sampai hari ini,” kata Mahmoud Ayoub, “para mufti menerbitkan opini-opini hukum, yang disebut fatwa, sesuai dengan asas-asas mazhab mereka. Kumpulan fatwa itu berfungsi sebagai manual terutama bagi para mufti yang kurang kreatif atau kurang mampu.” Kurang kreatif? Kurang mampu? Kurang mampu ketimbang siapa? Anda atau aku? Apa kita masih membutuhkan mereka? Daripada terus menjiplak jiplakan mereka, bukankah lebih baik kita dengan sekuat tenaga mengguncang-guncang pintu ijtihad supaya terbuka? (Hlm. 114).

Lihatlah contoh lain bagaimana kita memuja pengulang-ulangan: hukum Syariah. Selalu dikatakan bahwa Syariah mewakili ideal-ideal Islam. Sebagian besar muslim beranggapan bahwa Syariah adalah sesuatu yang suci. “Sebagian besar Syariah,” tulis seorang pembela reformasi, Ziauddin Sardar, “tak lebih daripada sekadar pendapat hukum dari para hakim klasik”—dengan kata lain, Syariah adalah milik keempat Mazhab Sunni. Diciptakan selama masa kerajaan Islam, kode-kode hukum ini terus-menerus dijiplak sejak saat itu. “Itulah sebabnya,” kata Sardar, “kapan saja Syariah diberlakukan—di luar konteks waktu ketika dirumuskan dan jauh di luar jangkauan kita—maka masyarakat-masyarakat muslim akan menyaksikan suasana zaman pertengahan.” Kita menyaksikan penerapannya di Saudi Arabia, Iran, Sudan, dan Afghanistan pada era Taliban. (Hlm. 115).

Berikut ini adalah barometer lain dari kemunafikan Arab: Selama bertahun-tahun, Kuwait mendonasikan lebih sedikit daripada donasi Israel kepada badan-badan PBB yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Arab Saudi juga tak mampu mengungguli donasi Israel meskipun uang mereka dari penjualan minyak terus menebal. Dan sekarang? Meskipun pundi-pundi uang mereka begitu berlimpah dan luas negaranya begitu besar untuk bisa ditinggali pengungsi Palestina, namun pemerintah Saudi tidak akan pernah menerima orang Palestina sebagai warga negara mereka. Sebaliknya, mereka akan mengumpulkan dana amal melalui program resmi di televisi yang sangat panjang, guna mendanai para pengebom bunuh diri. Mereka juga akan menghadiahi para keluarga pengebom bunuh diri yang berhasil dengan imbalan ibadah haji ke Makkah. Semua biayanya ditanggung pemerintah Saudi. (Hlm. 164-165).

Taslima Nasrin, seorang penulis dan dokter feminis yang dikucilkan di Bangladesh, memberiku contoh konkret tentang apa yang telah dia alami jauh sebelum orang Saudi menjadi kaya. “Saat kecil,” katanya, “aku diberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu berarti segala sesuatu. Jadi, Allah seharusnya tahu bahasa Bengali, bukan?” Dia bertanya kepada ibunya, “Bagaimana mungkin aku harus shalat dalam bahasa Arab? Ketika aku ingin berbicara dengan Allah, kenapa aku harus menggunakan bahasa orang lain?” Ibunya tidak mengungkapkan alasan yang memuaskan, kecuali sebuah jawaban yang itu-itu saja. (Hlm. 218).

Apakah Al-Quran ditulis Allah dari awal sampai akhir? Sepanjang dekade-dekade pertama Islam, dengan sedikit waktu mencerna keyakinan yang baru itu, orang Arab meraih sukses militer internasional atas nama Allah. Bisa dipahami jika pengumpulan ayat-ayat Al-Quran harus dipercepat untuk memenuhi tekanan sebuah dinasti. Dalam sebuah esai revolusioner yang berjudul “Apakah Al-Quran itu?”, The Atlantic Monthly menceritakan seorang panglima yang kembali dari Azerbaijan. Sang panglima memperingatkan khalifah ketiga, Usman, bahwa para mualaf mulai bercekcok tentang apa yang dikatakan Al-Quran. Dia memohon kepada Khalifah Usman untuk “mendahului orang-orang ini” sebelum mereka terseret ke dalam pertikaian, sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Yahudi dan Kristen. Khalifah Usman segera menitahkan untuk membukukan Kitab Suci. Wahyu-wahyu yang dihafal akan ditulis dan perkamen-perkamen ayat-ayat suci yang terpencar-pencar akan dikumpulkan, semuanya akan didistribusikan sebagai sebuah versi Al-Quran. Salinan-salinan “tidak sempurna” atau “tidak resmi” akan dimusnahkan. Pertanyaannya: Setelah disetujui dengan terburu-buru, bagaimana jika versi yang “sempurna” ternyata kurang sempurna? (Hlm. 222).

Jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama. Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi perempuan. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. (Hlm. 242).

“Bertanyalah tentang uang yang Anda sumbangkan ke lembaga amal. …sejumlah lembaga donor tanpa disadari membiayai sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial yang dijalankan oleh kelompok fundamentalis Islam. Para fundamentalis ini menekan para lelaki untuk pergi ke masjid (dan) para perempuan untuk membungkus tubuh mereka. Mereka mendorong diakhirinya sekolah yang mencampur lelaki dan perempuan bersama, melarang para gadis untuk belajar sains, olahraga, dan seni. Mereka menganjurkan pendidikan yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain.” (Hlm. 290).

“Setelah banyak bereksplorasi, interpretasi pribadiku terhadap Al-Quran membawaku pada tiga pesan yang baru saja kudapatkan. Pertama, hanya Tuhan yang sepenuhnya tahu kebenaran dari segala hal. Kedua, hanya Tuhan yang bisa menghukum orang yang tak beriman, dan itu berarti bahwa hanya Tuhan yang tahu apa itu keimanan sejati. Ketiga, kesadaran kita membebaskan diri kita untuk merenungkan kehendak Tuhan—tanpa kewajiban apa pun untuk tunduk pada tekanan dari prinsip atau faham tertentu… (Hlm. 310).

TENTANG IRSHAD MANJI

Irshad Manji
Irshad Manji
Irshad Manji adalah seorang feminis muslim Kanada, penulis, jurnalis, dan juga aktivis hak asasi manusia. Ia adalah direktur Moral Courage Project di New York University; Moral Courage Project mengajari para pemuda untuk menyuarakan kebenaran di komunitas-komunitas mereka. Manji adalah seorang kritikus terhadap Islam radikal dan interpretasi-interpretasi ortodoks atas Al-Quran. Ia mengadvokasi bangkitnya pemikiran kritis, yang dikenal sebagai ijtihad dalam tradisi Islam. Demi tujuan itu, dia mendirikan Project Ijtihad, sebuah organisasi internasional untuk menciptakan jaringan umat Islam yang tertarik dengan reformasi Islam. Ia merupakan sebuah lembaga yang akan membantu para muslim muda untuk memimpin reformasi Islam.

Sebagai seorang jurnalis, tulisan-tulisannya muncul di banyak media, dan dia mendapatkan pembaca dari Amnesti Internasional, PBB, Democratic Muslims di Denmark, Royal Canadian Mounted Police. Dia juga sering tampil di jaringan televisi dunia, mencakup Al Jazeera, CBC, BBC, MSNBC, C-SPAN, CNN, PBS, The Fox News Channel, dan The CBS Evening News.
Melihat kepemimpinan dan prestasinya, Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas “keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya”. Majalah Ms. menabalkan Irshad sebagai “Feminis Abad 21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.

Dan pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005, The Jakarta Post mengakui Irshad sebagai satu dari tiga muslimah yang mampu menciptakan perubahan positif dalam Islam.



PENGAKUAN ATAS BUKU INI

“Semangatnya melampaui zamannya. Membaca buku ini bagai membaca wahyu.”
—The New York Times

“Sebuah seruan keras bagi setiap muslim untuk jujur pada diri sendiri, dan mempertanyakan kembali kebenaran yang selama ini diyakininya.”
—Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM

“Manji adalah suara-suara terpendam dari kaum muslim yang kritis namun takut bicara.”
—Ayu Utami, Penulis

“Sebuah buku berani yang ditulis oleh seorang muslimah yang tidak takut mati!”
—Lola Amaria, Artis

“Aku sangat terkejut dengan apa yang dia katakan. Dan sungguh-sungguh berterima kasih.”
—Hesham Hassaballa, Muslimwakeup.com

“Buku ini bisa menjadi mimpi buruk bagi Osama bin Laden.”
—United Press International

“Seruan yang keras dan jelas untuk melakukan reformasi dan bersikap jujur. Sinis, blakblakan, sedikit kurang ajar, tapi sangat berguna.”
—The Globe and Mail

“Yang ditolak Manji sebenarnya sederhana: Ia tidak menerima bahwa Islam adalah struktur yang stagnan dan tak dapat diubah.”
—The Friday Times (Pakistan)

“Gerakan-gerakan demokratik yang kini muncul telah menunjukkan bagaimana banyak kaum muda muslim ingin menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka dan mencapai potensi mereka sepenuhnya. Jika Anda ingin merasakan suara mereka, bacalah buku Manji yang berani ini.”
—Thomas Friedman, The New York Times

“Lebih agung, jauh lebih agung, ketimbang seorang gadis yang bertemu dengan Tuhannya.”
—O, The Oprah Magazine

“Salah satu analisis terhadap Islam yang paling tajam sejak peristiwa 11 September.”
—Philadelphia Inquirer




  Resensi (6)
Resensi RSS
 1 Sekuler
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 12-05-2008 10:22
hati-hati meninterpretasikan buku ini. 
SEKULER adalah hal yang tepat 
Dia memilih untuk tidak berkeluarga, sunnah rasul: tidak diikuti 
Dia tidak menutup aurat (berjilbab) 
Muslimah di alquran : wajib mentup aurat. 
Hati-hati ini sama dengan JIL
 2 Mirip Indonesia
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 14-05-2008 06:18
Pemikiran Irshad Manji menjadi relevan tatkala Fatwa MUI oleh sebagian orang dianggap sakral dan tidak boleh dipertanyakan. Kita tentu masih butuh fatwa ulama tp ttp harus terbuka untuk dipertanyakan dan bahkan diabaikan apabila keluar dari rasa keadilan.
 3 kontekstual
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 16-05-2008 08:19
pemikiran irshad manji tentang ijtihad tidak hanya berbicara pada kita tentang bahwa kita harus mempertanyakan ketetapan atau aturan-aturan yang dibuat oleh orang, sekelompok orang atau penguasa. tapi dibalik semangat jihadnya untuk berijtihad adalah mengkabarkan pada kita bahwa banyak manipulasi dan kekerasan atas nama agama, terjadi di indonesia. untuk itu membaca dan merenungkan pemikiran irshad manji adalah kesepakatan kita untuk menolak absolitisme penafsiran agama, karena semua adalah POLITIK!
 4 a
Ditulis oleh a, pd 30-05-2008 06:07
a
 5 Kontroversi Iman Muslimah Liberal (SUARA
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 06-06-2008 03:15
Gema pembebasan muslimah liberal, Irshad Manji, telah menembus batas agama, budaya dan negara. “Aku seorang muslim yang beriman”, sebuah pengakuan yang sudah barangtentu identik dengan kepatuhan total kepada Tuhan. Tetapi, pernyataan itu akan menohok kaum beriman setelah ia juga menegaskan bahwa dirinya adalah seorang lesbian. 
Irshad Manji dianggap sebagai mimpi buruk bagi Osama bin Laden. Kegeramannya terhadap kekerasan yang seringkali mengatasnamakan agama tak bisa ditutup-tutupi lagi. Karenanya, ia bersikeras untuk menemukan keotentikan Islam melalui caranya sendiri. Jalan kebebasan yang ia pilih mendorongnya untuk membebaskan dirinya sendiri dari semua doktrin agama yang mengungkung dan menakutkan. 
Dalam perjalanan hidupnya, muslimah kelahiran Uganda, Afrika Timur berdarah India-Mesir ini, menemukan banyak sekali ketidaksesuaian dalam agamanya. Seperti paparannya, bahwa ia merasa harus berkata jujur pada semua orang terutama tentang hubungannya dengan agamanya yang kurang begitu menyenangkan. Hidupnya bergantung pada fatwa yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai wakil Allah (hlm.34). Mengapa ia sampai pada kesimpulan ini? 
Irshad Manji mengaku kenyang melihat fenomena keislaman yang sering didiskreditkan oleh Barat dan Eropa. Berdasarkan fakta-fakta yang ia himpun, ia menyaksikan betapa rapuhnya kemampuan umatnya untuk merekonstruksi logika berpikir yang seimbang dan sesuai antara kitab suci dengan realitas. Bertindak tanpa berpikir ulang adalah kebiasaan yang mengandung resiko, tetapi anehnya menurutnya tetap dilestarikan. 
Di balik segala penuturannya yang jujur dan apa adanya, Irshad Manji barangkali lupa jika dirinya meneropong Islam sebagai fenomena. Secara fenomenologis, setiap orang boleh saja menyimpulkan pandangannya secara taken for granted. Seharusnya ia lebih terbuka dalam tulisannya, bahwa ia harus memilih untuk menggunakan perspektif antropologiskah, sosiologis atau politik? Sehingga paparannya yang cenderung eksplosif dan emosional tidak dicibir begitu saja hanya sebagai dongeng di siang bolong. 
Memang tidak sedikit kritiknya atas Islam yang didasarkan pada pengalaman empiris dalam jejak rekam sejarah hidupnya yang bisa diambil sebagai pelajaran berharga untuk umatnya. Tetapi “prestasi” personalnya itu tidak akan pernah bisa melewati arus utama para pemegang otoritas dalam Islam. Selamanya! 
Ia benar, ketika menegaskan bahwa dirinya tidak mau bungkam atas kebiadaban dan intoleransi yang dilakukan oleh para pemegang otoritas di beberapa negeri mayoritas Muslim. Tetapi ia tidak bisa begitu saja mereduksi dan menggeneralisir “topografi” fenomenologisnya kepada Islam. 
Gaya bertutur dan argumentasi menyerang dan bertahan model Irshad Manji tidak bisa disamakan begitu saja dengan Nasr Hamid Abu Zayd yang pernah mengatakan bahwa “al-Quran sebagai teks kebudayaan”. Atau apalagi dengan Khaled Abou El-Fadl, muslim liberal yang tak pernah berhenti memperingatkan “para pemegang otoritas agar tidak mengaku sebagai Tuhan”. 
Irshad Manji sebenarnya ingin berselancar dalam jagad feminisme Islam untuk paling tidak ikut menyumbangkan ekspresi kegelisahannya yang telah begitu lama merasa terkungkung dalam selimut ketakutan, teralienasikan oleh doktrin agamanya sendiri, terabaikan eksistensinya di hadapan para pemegang otoritas. Ia ingin mendobrak tabu dengan melawan setiap bentuk kezaliman yang jelas-jelas berseberangan dengan aqidahnya. Tetapi aqidah macam apa yang ia tawarkan? 
Pluralisme (dan humanisme). Jelas ia tak bisa mengelak dari indahnya perbedaan dan keharusan membela dan menagakkan HAM. Kebebasan dimaknainya sebagai kemerdekaan hidup beragama. Baginya, setiap orang bebas berkehendak. Ia mendukung habis-habisan kaum gay dan lesbian. Tampaknya, di sinilah kelemahannya bahwa ia terpaksa terjebak dalam context of justification. Ia berusaha dengan caranya sendiri menafsirkan kitab sucinya untuk menjustifikasi pilihannya sendiri. Tidak heran, jika ia sampai pada kesimpulan bahwa ia beriman tanpa rasa takut (bersalah!). 
Hampir saja ia mencampakkan agamanya dan menghapus identitas dirinya sebagai seorang muslim. Mengapa ia tidak melakukannya? Ia mengaku masih setia pada keadilan. Ia selalu mencoba memberikan penilaian pada Islam secara adil karena, menurut ukurannya yang cenderung mengikuti Barat, objektivitas adalah segala-galanya. Ia merasa harus menemukan Islam yang sebenarnya, bukan Islam yang tampak dari luar (hlm. 57-58). 
Di tengah ketekunannya terhadap jurnalistik, ia makin meneguhkan ide pembaruan dalam Islam. Ia menyebut dirinya sebagai ”muslim refusenik”, yaitu seseorang yang berpikiran liberal, independen, dan anti-fundamentalis. 
Sejak Januari 2008, ia bergabung dengan Universitas New York dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang menyokong generasi muda memperjuangkan kebenaran dan pemberdayaan diri. Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia terutama di kalangan perempuan Muslim membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan dan pujian dari Barat. 
Buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas dan santai sehingga pernyataan yang meledak dan meledek disuguhkan tanpa basa-basi lagi. Pemikirannya telah memicu banyak perdebatan yang seru. Bagi para penggemar senam pemikiran, tidak ada salahnya jika ikut mengkritisi gagasan liberal, transformatif dan berani gaya Irshad Manji yang lumayan kontroversial. (Peresensi: Robby H. Abror)
 6 beriman tanpa rasa takut
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 10-06-2008 01:28
Jangan samakan antara ajaran islam dengan budaya arab...irshad manji menulis buku ini banyak berdasarkan pengetahuannya tentang budaya arab.Islam justru lahir di arab, untuk meluruskan akhlak mereka yang bobrok, termasuk juga perlakuan terhadap perempuan.Islam sama sekali tidak melarang perempuan untuk maju, pintar,berilmu pengetahuan luas.Aisyah, adalah salah satu contonya.Tapi sebagai perempuan, kita tetap harus ingat kodrat kita sebagai perempuan.kalo kita minta sama persis seperti laki2, kenapa Allah menciptakan manusia dalam 2 jenis???mending 1 jenis saja, diciptakan 2 jenis untuk saling melengkapi. 
Menyikapi pengakuannya sebagai seorang muslimah, sangay disayangkan sekali..seorang muslimah, tidak seprti itu, jangan hanya karena orang terlahir sebagai anak seorang yang beragama islam, terus dia bisa menyandang sebagai seorang muslimah, tanpa pernah sekalipun dia menjalankan dan patuh terhadap aturan Allah.Seorang muslim/muslimah minimal mnejalankan 5 rukun islam dan mempercayai 6 rukun iman.itu adalah minimal untuk bisa dikatakan sebagai seorang muslim dan muslimah.jadi penentangan irsyad manji kepada islam dan Al-Qur'an bukan penentangan dari seorang muslimah, tapi adalah penentangan dari seseorang, entah apa agamanya yang membenci islam.

Tulis Resensi
  • Silakan untuk mengisi resensi yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua resensi yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan jika ternyata berhubungan dengan aktivitas spamming.
Nama:
E-mail
Judul:
Resensi:

Kode:* Code
Kirim ke email Saya

 

Polls

Dimanakah Anda membeli buku Nabi Muhammad Buta Huruf atau Genius?