Forgot Password? | Register

8 PDF Cetak E-mail
Aku mencari ide; aku memilih kata; tas hitam di atas tumpukan kardus. Ada. Telinga kiriku mendenging; bola lampu lima watt di kamar mandi menyala lampai. Ada. Sajadah sembahyang tergelar pasrah dalam bentuk dan warnanya yang bergairah. Ada. Jaket coklat tua yang bersahaja meninggalkan jejak tubuhku di sana. Ada. Kucing mengeong-ngeong menyambut ayam jago berkokok. Ada apakah? Tikus dan cecurut ribut dalam timbunan barang di kamarku yang bobrok; cecak di dinding berdecak seperti kagum. Tapi tentu bukan mengagumi diri sendiri, kan? Dua ekor kucing jantan bertengkar di pekarangan samping rumahku, berebut mendapatkan kucing betina; raungan mereka berdua merobek dada. Nenek yang telah lama jadi bunga ranjang memangil-manggil bapak, minta diantar kencing ke kamar mandi.

Semua peristiwa mengisi sunyi.

Tentu lebih banyak yang bisa ditulis di hari siang. Ada banyak keramaian yang mengisi sunyi di sana; keramaian yang pasti ditelan sunyi; sunyi yang jadi Ibu kandung semua kejadian.

Di kampung pelacuran, dunia jadi terbalik. Bulan menjadi matahari yang hangat, matahari menjadi bulan yang panas. Tapi para pelacur tetap saja tidur di siang hari, kan?

Di kompleks pelacuran, tidak berlaku ayat Tuhan tentang siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat—bagi pelacur, barangkali tidak bagi para pelanggan. Tubuh sebagai alat mencari uang; seperti mengeksploitasi kandungan bumi yang merusak ekosistem rahim bumi yang perempuan, laki-laki mengaduk-aduk penuh napsu, menzinahi Lubang Hitam tempat dulunya ia mula-mula keluar. Lelaki membuang generasi; generasi berserakan bersama ratusan pil dan kondom dan buih sabun mandi. Generasi berwujud darah putih itu menjerit: Mengapa hak hidupku kau cekik, Bapak? Mengapa kau jadikan sampah, Ibu?

Semua berawal dari keinginan liar yang menonjolkan diri: Aku! Dan iblis pun lahir, tercipta oleh manusia sendiri, yang menggesek batu api dalam tubuhnya.

Para pelacur bertahajud di siang hari. Siang hari bagi pelacur lebih kudus ketimbang malam hari. Ahli fikih menyangka, Tuhan sedang marah pada para pelacur—dan Tuhan dalam prasangka ahli fikih memang marah. Tapi, marahkah Tuhan kepada para pelacur?

Sementara... ratusan tahun yang lalu Omar Kayyam dan Rumi minum anggur di antara ahli fikih; dan para ahli fikih bersama Tuhannya marah pada mereka berdua; sedangkan Omar Kayyam dan Rumi malah mengundang Tuhan mereka berdua dalam pesta maboknya. Dan para ahli fikih seperti membentak di depan cermin: mereka membentaki diri sendiri.

Aku sesuai dengan prasangka hambaKu.


  Jadi Peresensi pertama?
Resensi RSS

Tulis Resensi
  • Silakan untuk mengisi resensi yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua resensi yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan jika ternyata berhubungan dengan aktivitas spamming.
Nama:
E-mail
Judul:
Resensi:

Kode:* Code
Kirim ke email Saya