Forgot Password? | Register

7 PDF Cetak E-mail
Andaikata tubuhku air, tentu tiada lagi ketakutan pada laut. Tentu aku akan bersahabat dengan gunung, lembah, rawa-rawa, udara, juga langit. Tubuh akan memanjang, melumer ke mana-mana. Tidak takut sendiri atau kedinginan. Menarilah tubuh dalam kerendahan saat ditampung apa saja. Menarilah tubuh di dalam telaga, sungai, gelas, panci, di atap rumah, atau di udara tipis malam hari. Menari kerendahan, menari berputar, menari berkisar. Aku ambruk, rebah, tanpa segan menempati berjuta wujud karena aku adalah unsur utama yang paling dibutuhkan, yang diteguk, yang membersihkan daki di tubuh semua wujud.
Aku ikut terseret angin dan cahaya ke atas karena tarikan ajaknya, kemudian diempaskan kembali di kerendahan. Aku pasrah. Akulah unsur utama yang menyusun hidup. Aku adalah mineral, pepohonan, binatang dan manusia. Akulah Muslim, Yahudi, Nasrani, Hindu, Budhis, juga Kafir.

Andaikata tubuhku air: Air Kesadaran. Konon, Tuhan tinggal dalam air. Jika Tuhan berada di air, maka saat meminumnya, kita turut menelanNya pula. Menelan tubuhNya, minimal satu liter setiap hari.



  Jadi Peresensi pertama?
Resensi RSS

Tulis Resensi
  • Silakan untuk mengisi resensi yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua resensi yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan jika ternyata berhubungan dengan aktivitas spamming.
Nama:
E-mail
Judul:
Resensi:

Kode:* Code
Kirim ke email Saya