| Judul | : Jihad Terlarang; Cerita dari Bawah Tanah | | Penulis | : Mataharitimoer | | Penerbit | : Kayla Pustaka | | Tahun | : 2007 | | Genre | : Novel Islam | | Tebal | : 368 Halaman | | ISBN | : 978-979-145-001-0 |
Satu lagi, sebuah novel tragis yang diangkat dari kisah nyata mantan aktivist Islam garis keras. Ya, Kalau Muhammad Idris dalam novelnya “Mereka Bilang Aku Kafir” –walau sedikit tersirat– terlalu vulgar membeberkan soal Negara Islam Indonesia (NII)/ Komandemen wilayah 9 sebagai tempat dimana harakah (gerakan) ia bernaung melakukan perjuangannya. Dalam novel “Jihad Terlarang” ini, sang penulis mengaburkan organisasinya. Tapi, mirip-miriplah kalau dilihat dari bentuk perjuangannya yang sembunyi-sembunyi untuk mendirikan sebuah negara. Atau mungkin sama saja namun hanya beda kamar. Kisah ini diawali dari kehidupan tokoh bernama Royan yang luntang-lantung pasca ditinggal kedua orangtuanya. Lalu, dari perjalanannya mencari jati diri ia bermuara ke dalam lingkungan religius yang kelak menjadi tempatnya berjihad menegakkan hukum Allah. Mulanya Royan kerasan beraktifitas di organisasi terlarang buat rezim orde baru kala itu. Berdakwah, mengajak warga negara RI masuk kedalam gerakannya, membina sahabat-sahabatnya yang sudah masuk, melakukan koordinasi antar wilayah, dan masih banyak lagi aktifitas yang mesti ia lakukan dalam 24 Jam. Melelahkan tapi ia nikmat melakukannya. Banyak rona-rona perjuangan yang menghiasi lika-likunya membesarkan organisasi bawah tanah tersebut. Ada yang mengharukan, juga tidak sedikit yang bisa dibilang dapat membangkitkan semangat, dan banyak pula kisah yang bertaburkan rasa curiga, bahkan ketidaksesuaian misi dan visi dalam bertindak pun sering meliputi dimensi perjuangannya. Ketika Royan sudah mendapat jabatan yang cukup strategis di bangku pemerintahan, ada beberapa pemimpinnya yang bersikap tak suka. Entah karena tidak setuju dengan cara Royan membina para umatnya, atau ada motif lain. Yang pasti, sejak berbenturan dengan prinsip para pemimpinnya, Royan memilih untuk keluar. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi Royan tidak lagi ikut dalam pergerakan ini. Pembaca pun dapat mengetahuinya dalam novel Islam setebal 368 halaman ini. Trauma jelas ada, dan tak akan hilang sampai kapan pun bagi mereka yang pernah mengalami pergulatan hidup seperti Royan. (muluk)
|